[Lap TPPHewani] Pembuatan Bakso Ikan Gabus


JUDUL
Pembuatan Bakso Ikan Gabus

TUJUAN
·         Mahasiswa mampu mengetahui tekhnik pembuatan bakso ikan gabus dan dapat membuatnya dengan baik.
·         Mahasiswa dapat memahami formulasi yang tepat untuk komposisi tepung aren yang pas pada pembuatan bakso ikan ini

TINJAUAN PUSTAKA
Bakso daging menurut SNI No. 01-3818-1995 adalah produk makanan berbentuk bulatan atau lain yang diperoleh dari campuran daging ternak (kadar daging tidak kurang dari 50 persen) dan pati atau serealia dengan atau tanpa bumbu BTP (bahan tambahan pangan) yang diizinkan. Pembuatan bakso biasanya menggunakan daging yang segar. Daging segar (pre-rigor) adalah daging yang diperoleh setelah pemotongan hewan tanpa mengalami proses pendinginan terlebih dahulu. Fase pre-rigor berlangsung selama 5 sampai 8 jam setelah postmortem. Bakso dapat dikelompokkan menurut jenis daging yang digunakan dan berdasarkan perbandingan jumlah tepung pati yang digunakan. Berdasarkan jenis daging sebagai bahan baku untuk membuat bakso, maka dikenal bakso sapi, bakso ayam, bakso ikan, bakso kerbau, dan bakso kelinci (Gaffar, 1998).

Bakso ikan adalah makanan yang terbuat dari daging ikan yang dicincang dan dilumatkan bersama tepung dan bumu-bumbu lainnya kemudian dibulatkan dan diakhiri dengan pemasakan. (sumber : http://selaputs.blogspot.com/2011/02/definisi-arti-pengertian-bakso.html)
Bakso mengandung energi sebesar 190 kilokalori, protein 10,3 gram, karbohidrat 23,1 gram, lemak 6,3 gram, kalsium 35 miligram, fosfor 0 miligram, dan zat besi 6,75 miligram.  Selain itu di dalam Bakso juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 4 miligram.  Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 250 gram Bakso, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100%. Tekstur bakso yang disukai adalah yang halus, kompak, kenyal, dan empuk. Bahan tambahan yang digunakan dalampembuatan bakso antara lain bahan pengisi, garam, STPP, rempah, penyedap rasa, serta es atauair es. (Anonim, 2010) Bahan utama pembuatan bakso adalah daging. Dan pada pembuatan bakso ini daging yang digunakan adalah daging ayam. Meskipun, hampir semua jenis daging dapat digunakanuntuk membuat bakso. Prinsip pembuatan bakso adalah penghancuran daging dan pencampuran menggunakan emulsi dengan bahan-bahan tambahan membentuk adonan daging, dicetak, dan dimasak. Tujuan penghancuran daging adalah untuk memecah serabut daging, sehingga protein larut garam lebihmudah terekstrak.

METODOLOGI PRAKTIKUM
1.       Alat dan bahan


a.       Alat
Timbangan
Baskom + wadah
Food processor
Pisau
Piring
Sealer
Panci
Kompor
Cobek dan muntu
Sendok
Kompor

b.      Bahan
Daging ikan gabus 10,30 gram
Daging setelah fillet 357 gram
Bawang putih 11,6 gram
Bawang goreng 7,7 gram
Merica 0,9 gram
Tepung aren (25%) 89,2 gram
STTP (0,2-0,4 %) 0,77 gram
Garam 7,7 gram
Es batu 135,6 gram
Plastik + label




2.       Langkah kerja
1.    Ikan gabus yang telah ditimbang dicuci dengan air mengalir.
2.    Ikan gabus difillet, hilangkan bagian isi perut, insang, duri, ekor, dan kepalanya.
3.    Fillet ikan gabus ditimbang untuk menentukan jumlah bumbu yang dibutuhkan
4.    Bawang putih dan bawang goreng dihaluskan menggunakan cobek.
5.    Daging digiling dengan food processor sambil ditambahkan SSTP dan garam. Es batu dimasukkan sedikit demi sedikit untuk menjaga suhu daging agar proteinnya tidak rusak.
6.    Bumbu yang telah dihaluskan tadi ditambahkan ke dalam gilingan daging bersama merica.
7.    Tepung dimasukkan kedalam daging dan bumbu yang telah homogen
8.    Adonan digiling terus hingga tercampur, sambil dimasukkan es sedikit demi sedikit
9.    Kemudian rebus air untuk memanaskan adonan
10. Cetak adonan dengan menggunakan tangan, kemudian adonan diambil dengan menggunakan sendok, lalu adonan dimasukkan dalam panci dengan air yang telah panas
11. Setelah itu adonan ditunggu hingga matang, sampai bakso telah mengapung ke permukaan air
12. Bakso yang telah matang ditiriskan, ditimbang, kemudian dikemas

HASIL DAN PEMBAHASAN
1.       Hasil pengamatan
Kelo-mpok
Konsentrasi tepung
warna
aroma
tekstur
Kenampakan
Rasa
1
Tepung aren 25%
Coklat keputihan
Khas bakso ikan, daging ikan terasa
kenyal
Tidak rata, seragam
Kurang asin, tidak lembut
2
Tepung aren 30%
Putih kecoklatan
Aroma bumbu terasa, aroma daging kurang terasa
Sangat lunak, namun lembut
Halus, bentuk tidak bulat (lonjong)
Lebih tersa tepungnya, bumbunya kurang
3
Tepung aren 35%
Putih kecoklatan
Khas bakso ikan
Kenyal
Agak halus, seragam
Kurang asin, kurang lembut
4
Tepung aren 40%
Coklat keputihan
Aroma bumbu menyengat
Padat, kenyal, lembut.
Baik, halus
Lezat, terlalu banyak merica, daging terasa.



2.       Pembahasan
Pada praktikum ini pembuatan bakso ikan didapatkan hasil akhir bakso yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pemakaian konsentrasi tepung aren yang berbeda-beda. Hal ini didasarkan pada pernyataan Daniati (2005), bahwa kualtas bakso ditentukan oleh bahan baku, berbagai macam tepung yang digunakan dan perbandingannya di dalam adonan, sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kualitas bakso diantaranya adalah bahan-bahan tambahan dan cara memasaknya.
Pada parameter pertama adalah warna. Syarat mutu bakso yang dihasilkan adalah berwarna putih cerah dan merata. Hal ini sesuai dengan anonim (2010c), bahwa bakso ikan yang baik dapat dilihat dari syarat mutu bakso yang terdapat dalam SNI 01-3818-1995. Jika dibandingkan dengan hasil pengamatan yang kami lakukan, maka  warna yang sesuai dengan kriteria di atas adalah bakso dari kelompok 2. Pada kelompok pertama warna bakso coklat keputihan karena tepung aren yang ditambahkan yang paling sedikit sehingga warnanya lebih coklat dibandingkan kelompok lain. Kerena tepung aren juga memberikan warna putih pada bakso. Sedangkan pada kelompok 2 dihasilkan warna putih yang pas atau mendekati kriteria yang ditetapkan SNI karena es batu yang ditambahkan langsung ditambahkan semuanya, suhunya terjaga dengan baik sehingga daging tidak berubah menjadi coklat karena panasnya penggilingan. Pada kelompok 4 warnanya coklat keputihan padahal tepung yang dipakai paling banyak. Kemugkinan terjadi karena penambahan merica yang terlalu banyak yang mebuat warna bakso menjadi coklat.
Parameter kedua adalah aroma. Aromanya khas bakso ikan yang dihasilkan adalah aroma khas ikan dengan aroma bumbu tambahan terutama merica, bawang goreng, dan bawang putih. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniati (2005), bahwa kualitas tepung yang digunakan sebagai bahan makanan sangat berpengaruh terhadap makanan yang dihasilkan.
Parameter ketiga adalah tekstur. Data yang dihasilkan dari semua kelompok yaitu kenyal, kecuali kelompok 2 dimana hasil baksonya lembek karena teralu banyak es. Tekstur yang paling pas adalah kelompok 4. Aci kawung berfungsi untuk merekatkan satu bahan dengan bahan lainnya karena sifatnya yang mudah tergelatinisasi. Penambahan es batu dalam pembuatan bakso ikan ini sangatlah berperan dalam pembetukan tekstur bakso nantinya. Es batu berfungsi memperahankan suhu daging ikan agar tidak panas. Jika suhu daging panas maka protein yang terdapat di dalam daging tersebut akan rusak/ terdenaturasi. Dan jika protein rusak makan emulsi tidak akan sempurna atau tidak akan tercampur semua sehingga teksturnya tidak padat dan tidak kenyal.
Parameter keempat yaitu kenampakan. Data yang dihasilkan tiap-tiap kelompok bereda-beda, terdapat kelompok yang menghasilkan bakso yang rata dan tidak rata. Hal ini disebabkan karena beberapa hal yang mungkin terjadi, yaitu pemfilletan yang kurang bersih sehingga duri dan sisiknya terikut proses, penggilingan kuran sempurna sehingga ukuran daging tidak homogen, dan pembentukan yang dilakukan kurang baik karena mahasiswa belum terbiasa atau belum mamhir mencetak bakso.
Parameter terakhir yaitu rasa. Kelompok 1 menghasilkan bakso dengan rasa yang kurang asin, ini disebabkan karena tidak adanya penambahan penyedap rasa. Sedangkan untuk kelompok 2, dihasilkan rasa yang kurang terasa pada bumbunya karena penambahan es yang terlalu banyak sehingga bumbu yang dimasukkan sebagai formula menjadi tidak sebanding dengan es yang dimasukkan. Pada kelompok 3 dihasilkan rasa yang kurang asin dan kurang lembut. Rasa asin yang kurang dapat disebabkan karena penambahan garam maupun penyedap rasa yang kurang pas. Sedangkan kurang lembutnya bakso saat digigit, dikarenakan karena kurangnya penggilingan sehingga daging yang dihasilkan kurang halus. Terakhir pada kelompok 4, dihasilkan rasa yang agak pedas karena adanya penambahan merica yang berlebihan.

KESIMPULAN
Pada praktikum pembuatan bakso ikan gabus dalam mata kuliah Teknologi Produksi Hewani, mahasiswa telah memahami dan dapat membuat bakso ikan gabus ini dengan melalui proses pencucian dan pembersihan, penggilingan, pencetakan dan pemasakan. Diketahui bahwa titik kritis pada pembuatab bakso ikan gabus ini adalah pada tahap penggilingan dan pemasakan. Sedangkan formulasi yang pas didapatkan secara keseluruhan, untuk kekenyalan, rasa, kenampakan, dan tekstur bakso pada kelompok 4 (penambahan tepug aren 40%) lah yang paling pas dan paling enak diantara seluruh kelompok. Namun untuk warna yang paling pas terdapat pada warna kelompok 2.

DAFTAR PUSTAKA
Gaffar, R. 1998. Sifat fisik dan palatabilitas bakso daging ayam dengan bahan pengisi tepung sagu dan tepung tapioca. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Comments
0 Comments

0 komentar: